Saturday, May 30, 2009
Dongeng SeKapas
Sekapas berjuluk bersih, ringan mengawang diudara bebas
Bergerak hanya sebatas kehendak angin yang bertiup
Tinggi rendah, jauh dekat, pergi pulang tanpa kesan makna
Luput disadari, selama ini betapa beruntungnya dia
Walau tanpa harap doa dan upaya yang pantas darinya
Masih saja ada angin yang selalu bertiup menerpa
Sejak anjaknya dari induk sepohon bertahun lalu
Konon itu muasal mengapa dia terbuai tinggi dan sombong
Suatu masa, guliran hidupnya segera berubah
Angin yang senantiasa semilir berhenti bertiup
Perlahan berangsur jatuh kebawah, ya... ke tanah
Tanah berdebu yang kotor, bahkan mungkin juga basah
Tahu atau tidak akan dampaknya, dia tetap belum menyadari
Kejatuhan tiada dihindari, tetap tinggi dan sombong
Masih saja tanpa harap doa dan upaya selayaknya
Setelah tiada sapa dan hardik ramah, baru terhenyak kaget
Sekapas bersih telah berubah, bahkan dia pun tak mengenali lagi dirinya
Kala itu julukan perlahan berganti, sesuai dengan duka deritanya
Sejenak tersadar, sekapas bersih itu sudah tiada, usang terpuruk
Terlanjur menjelma hina menjadi sekapas kotor berbau pula
Seketika gejolak besar hadir menghempas sanubari
Segala yang dahulu tak kunjung disadari, hadir menghujam
Bak badai, meluluhlantahkan apa yang diyakini selama ini
Menuai airmata nestapa, mengalir deras membasahi diri
Memupus tinggi dan sombong yang mengakar dalam
Menyadarkan akan apa keliru hidupnya
Dalam jatuh dan rendah kini tahu makna sayap
Dalam kotor dan sepi kini tahu makna arah tujuan
Dalam gelap dan dingin kini tahu makna cahaya
Dalam hina kini tahu ada Yang Maha Mulia
Sang Maha,
Yang Mencipta induk sepohon muasalnya
Yang Mengatur angin arah hidupnya
Yang Melindungi dari kejatuhan masa depannya
Sekapas kotor sadar dan tahu apa yang dibutuhkan
Memohon sayap karena faham guna sayap
Memohon arah tujuan karena faham guna arah tujuan
Memohon cahaya karena faham guna cahaya
Memohon perlindungan karena faham guna perlindunganNya
Tanaman yang layu sakit bersemi subur kembali
Terobati dengan kotoran yang tadinya melekat
Terpupuki dengan harap doa yang jelas
Tersirami dengan daya upaya langgeng senantiasa
Niscaya semerbak berbunga, ranum manis berbuah
Sekapas kotor bersih sudah kini
Bersayap, terbang tinggi dan jauh berarah tujuan
Menjalani hidup selaras kehendak Sang Maha
Bilakah kita?
Subscribe to:
Comments (Atom)