Thursday, May 9, 2013
Sang Bunda
Telisik Riwayat menarik
Ketika AlGhaib berbisik
Cerita apik AlKhalik
Maryam si gadis cantik
Keturunan orang2 baik
Nazar Hanna dan Imran
Anak dalam kandungan
Diabdikan kepada Tuhan
Seorang anak perempuan
Pembuka pintu ArRahman
Kesucian menghembusnya
Setan enggan menyentuhnya
Zakaria pemeliharanya
Yahya kemenakannya
AlMasih Isa adalah anaknya
PilihanNya yang disucikan
CintaNya cahaya kemuliaan
Mihrabnya tebaran hidangan
Anugrahnya kalimat Tuhan
Ibunya pelengkap zaman
Urusan Rezeki
Rezeki itu bukan apa yang bisa diambil, tetapi apa yang mampu diterima...
Dalam hidup; rezeki itu ibarat alat, pekerjaan utamanya adalah: menghasilkan sebanyaknya manfaat dari alat yang diberi.
Perlu diketahui bahwa yang berhak memberi alat hanya Tuhan.
Jika demikian; maka pekerjaan utama kita sebenarnya adalah bukan untuk memperbanyak alat, tetapi untuk menghasilkan manfaat dari alat yang sudah diberi.
Lantas mengapa kita masih saja membuang waktu dengan mencampuri urusanNya...?
Ketika
Ketika sesuatu diluar masa dan ruang;
Cahaya tatapan Sang Wisdom menyeringai lembut sepenuh kasih.
Cahaya pada sebuah lapangan golep, penuh rumput indah tertata rapih di suatu sore.
Cahaya kagum Sang Wisdom kepada sebatang tanaman liar kecil, sendiri hening.
Sang liar kecil memang nampak seakan letih dan terasing.
Sang liar kecil, tiada keluh tiada kesah, tiada tanya mengapa dan untuk apa disini sendiri diantara jutaan rumput indah se lapangan golep.
Pun sang liar kecil tiada hasrat berubah ikut menjadi salah satu dari jutaan rumput indah disekitarnya. Bahkan sang liar tiada cemas jika sang jagal; si tukang kebun datang menjalani tugas menebas sang liar yang tiada diinginkan oleh jutaan rumput indah itu.
Sang liar kecil hanya sadar satu hal; tumbuh selayaknya sang liar. Tumbuh menjalani titah Sang Wisdom. Titah Sang Wisdom dalam ruang dan masa.
Sang liar hanya menanti satu hal, ketika Sang Wisdom berhenti menatap kagum, di suatu masa dan ruang Sang Wisdom merangkulnya dalam Sang Wisdom.
Ketika sesuatu diluar masa dan ruang; tiada lagi cahaya, tiada lagi tatapan, tiada lagi kagum. Sang Wisdom sudah melepas Sang nya untuk si kecil liar dan untuk semua di lapangan golep sore itu.
Indahnya sore itu...
Cinta Dan Harapan
Bahan baku seluruh penciptaan adalah cinta.
Dengan cinta, siapapun menjadi mampu berharap, setia pada kejujuran bahkan mampu bertahan dalam kondisi apapun. Karena dengan cinta lah keyakinan lahir dan tumbuh.
Cinta dan harapan adalah keniscayaan. Yang terkadang luput dari kesadaran, bahwa cinta dan harapan mengisi saluran yang berbeda. Cinta merupakan output dan harapan adalah input.
Cintailah siapa dan apapun, alirkan cinta yang berasal dari Sang Sumber Cinta. Namun jangan berharap kecuali kepada Sang Sumber Cinta itu sendiri. Karena jika kita berharap kepada selainNya, maka bersiaplah dengan kekecewaan sedalam harapan yang ditanamkan.
Impian adalah salah satu manifestasi harapan, bersyukur dan optimis adalah kualitas suatu harapan sekaligus kualitas kehidupan.
Gunakan akal dan hati untuk mengurai keinginan yang berisi petunjuk bagaimana mengalirkan cinta dan menarik harapan.
Mengalirkan cinta dan menarik harapan memiliki dampak berupa kesedihan maupun kegembiraan, dan semua itupun suatu keniscayaan. Hiasi semuanya dengan cinta.
Kesedihan yang dihiasi cinta akan berbuah kesabaran dan kegembiraan yang dihiasi cinta akan berbuah kesyukuran.
Selanjutnya sadari bahwa kebenaran tidak bisa dimiliki. Kebenaran hanya bisa disaksikan dan kita berpartisipasi di dalamnya. Impian, harapan maupun keinginan adalah wujud partisipasi itu. Jika belum menyadari semua itu, hiasi juga dengan cinta.
Ketidaksadaran yang dihiasi cinta berbuah pengampunan dari Sang Sumber Cinta.
Indahnya cinta dan harapan...
Sadar Kehidupan
Pada awal kejadiannya, manusia secara alamiah/sunnatullah/apapun istilahnya dikenalkan terlebih dahulu dengan alam materi. Kemudian secara bertahap, pun secara alamiah manusia mulai dikenalkan dengan hal-hal keruhanian.
Sehingga disadari atau tidak dalam menjalani hidup, kita bukan hanya membutuhkan hal-hal yang bersifat materi atau kebendaan. Seperti bentukan dasar penciptaan kita sebagai manusia yang meliputi jasmani dan ruhani/lahir dan batin/apapun istilahnya.
Menjamah keruhanian perlu kesadaran, titik awalnya adalah dengan berpikir mendalam/discerning/tafakkur/kontemplasi/apapun istilahnya.
Tetapi tanpa disadari, dikarenakan memasuki keruhanian 'tampak seperti memerlukan upaya yang keras', manusia terbuai dalam keruhanian yang tidak berujung/tidak menapak/di awang-awang/apapun istilahnya.
Kehidupan membutuhkan penuntun untuk membawa pancaran iwa ke dalam tindakan, jalan untuk bertindak dalam kehidupan. Yang membimbing manusia bagaimana membawa kebutuhan ruhani tepat di tengah-tengah kehidupan materi di dunia ini. Mempersembahkan semua tindakan kepada Tuhan dengan bertindak tanpa kemelekatan dan dengan bertindak tanpa melihat diri sebagai pelaku. Kehidupan yang kontemplatif.
Perjalanan Cinta
Berjalanlah seperti orang yang belum pernah pergi kemanapun, tetapi jangan lupa berhenti sebelum terlalu letih untuk menyadari siapa yang telah membuatmu mampu berjalan...
Kemudian sertakan perjalananmu dengan cinta, niscaya perjalanan itu dapat berlanjut tanpa letih tanpa batas.
Cinta merubah dirimu, kesadaranmu, asalmu, perjalananmu, jalanmu dan tujuanmu menjadi cinta, adakah letih dan batas dalam cinta...?
Perjalanan dalam cinta senantiasa dalam naungan kenikmatan. Nikmat menyadari setiap langkah dan jarak yang ditempuh dan nikmat dalam langkah dan jarak itu sendiri. Jika semuanya menjadi nikmat, adakah jenuh dalam kenikmatan...?
Berjalan dalam cinta; jelas, terang, dan mendamaikan; tidak membutakan karena gelap atau silau.
Langkah cinta adalah langkah keabadian, karenanya cinta tidak mengenal penghianatan, adakah khianat dalam keabadian...?
Subscribe to:
Comments (Atom)